Sabtu, 26 Maret 2011

"Generasi Robbani Siap “Action”

Setelah ditempa dalam kendali suatu jamaah, diharapkan generasi muslim mampu menularkan ilmu yang diperoleh, sehingga benar-benar tercipta suatu masyarakat Islam bebas dari kejahiliyahan / kebodohan.

Dalam berdakwah diperlukan beberapa garis besar methode dakwah, sehingga dalam terjun ke masyarakat tidak ada lagi perasaan canggung ataupun rendah diri. Metode berikut pernah diterapkan Rasulullah, sehingga terciptalah masyarakat masa depan harapan Islam.

Metode Pertama adalah HIKMAH (kebijaksanaan)
Syeikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al Manan menyatakan bahwa hikmah adalah memahami rahasia dan faedah tiap sesuatu. Seorang muslim diharapkan mengenal situasi dan kondisi sasaran garapan masyarakat setempat. Contoh konkrit, Rasulullah sebelum mempunyai kekuatan beliau berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Namun setelah memiliki kekuatan, dakwah secara terang-terangan mulai dilakukan.

Metode Kedua adalah MAU’IZAH KHASANAH (Pelajaran yang baik)
Hal ini mengundang pengertian nasehat, pengajaran, dengan berbagai bentuk tutur kata lembut, menarik dan melunakkan hati. Rasulullah menggembirakan hati mereka, mendorong mereka dengan cara-cara yang elegan dan positif. Tidak menggunakan cara-cara kekerasan.

Metode Ketiga adalah MUJADALAH (Tukar pikiran/diskusi).
Rasulullah adalah seorang demokrat sejati. Cara ini terutama dititik beratkan untuk mempengaruhi pihak lain dengan mengemukakan argumentasi secara ilmiah dan pendekatan dari hati ke hati. Rasulullah memurnikan “LAA ILAAHA ILLALLAAH” dengan memposisikan dirinya sama dengan masyarakat yang butuh dikasihi dan didengarkan suaranya. Langkah-langkah Rasulullah bahkan lebih jauh lagi, yaitu memberikan solusi atas segala permasalahan hidup baik hidup di dunia maupun di akhirat.

Pengakuan bahwa Rasulullah adalah “Man of Action” bukan hanya datang dari umat Islam saja. Bahkan para orientalis memuliakan Rasulullah dengan parameternya masing-masing, misalnya:

1. Thomas Carlyle (1762-1805) menyebut beliau sebagai pemikir dan seorang Nabi sekaligus pahlawan.

2. Tokoh utama Revolusi Perancis, Napoleon Bonaparte (1769-1821) menyebut rasulullah sebagai perwujudan pepatah “pemersatu patriot tauhid”.

3. Gothe (1794-1832) menyebut beliau sebagai perwujudan pepatah “Ora et Labora” (berdoa dan berusaha)

4. Baron Cara de Vaux (w. 1868) menyebut beliau sebagai “Pencipta Teodicy” (paham ketuhanan) yang lebih luhur dan kokoh.

5. John Drappes (1811-1882); Dr. Alenby; Arthur Glun Leonard; D.C Hogarth (1862-1929); R. Boswoth Smith, MA; dan George Bernard Shaw (1856-1950) menyebut Rasulullah sebagai orang yang mengakui dan menjamin keselamatan manusia dari setiap agama, asal ia hidup berkebajikan, beliau sebagai kepala Negara tidak pernah berpakaian mewah. Negaranya adalah Negara agama tapi tidak pernah melakukan “inquisisi” sebagai menusia yang saleh selain Muhammad tidak pernah hidup, dan ia harus disebut sebagai juru selamat terbesar umat manusia.

Dengan demikian, hubungan kita dengan Rasulullah Muhammad SAW merupakan mata rantai yang nyata dan kuat yang akan menghubungkan kita dengan sang Khalik, Alloh SWT. Hubungan itu akan menumbuhkan kembang kecintaan kepada beliau yang mendalam dan tulus sebagai sumber penghormatan dan pemuliaan kepada Rasulullah Muhammad SAW.